Resep Biasa

Resep 20 : Kebanyakan Dokter

CoverBeberapa waktu yang lalu, gue mengadakan sebuah polling di snapgram tentang apa tema yang harus gue bahas di tulisan kali ini.. dari 600 lebih followers gue.. Alhamdullilah ada banyak.. ada banyak yang menghujat :’) .. tp akhirnya, ada 1 usulan tema bagus.. dan akhirnya gue ambil, temanya adalah “Bagaimana prospek mahasiswa kedokteran di masa depan” ini adalah usulan dari kakak @nurriesmawan.. silahkan di cek ignya.. terus kita report bareng bareng ya…

Berhubung gue ga punya kemampuan melihat masa depan karena secara nasab gue ga ada hubungan sama roy kifosis.. maka disini gue akan mencoba semampu gue untuk melakukan analisis yang kritis namun manis terhadap Prospek mahasiswa kedokteran di masa depan..

Sebelum kita masuk ke Prospek.. gue mau kasih gambaran dulu gimana kondisi dari dunia kedokteran saat ini..

Dulu, Waktu gue SD.. guru di sekolah gue selalu bilang gini ke anak yang paling pinter..

“Wah kamu ini pinter ya, kalau gede pasti jadi dokter”.

Sedangkan ke orang yang engga pinter kaya gue, mereka pasti bilang gini..

“Wah kamu ini.. kamu siapa ya.. satpam !! tolong panggilkan satpam !!..”.

Entah kenapa, dari dulu dokter memang identik sekali dengan yang namanya kepintaran, kemapanan dan kesejahteraan.. setiap orang disekitar gue selalu menjadikan dokter sebagai profesi idaman, jadi ya wajar kalau sekarang ini banyak orang berlomba2 utk jadi dokter.

01-jurusan-terfavorit.jpg

Bukti sederhana dari Banyaknya orang yang pengen jadi dokter adalah semakin banyaknya Jumlah peserta pendaftar prodi kedokteran, jumlah FK yang didirikan saat ini sudah mencapai 82 fakultas dengan kapasitas 16000 lulusan tiap tahunnya dan jumlah tante tante yang pengen mantu dokter meningkat.. padahal, menurut berita yang ada, saat ini jumlah dokter di Indonesia sudah cukup, jadi kesimpulanya.. Dokter sudah banyak.

02-jumlah-dokter.jpg

03-jumlah-dokter.jpg

Sekarang kita masuk ke polsek kresek prospek..

Efek yang ditimbulkan dari banyaknya jumlah dokter adalah persaingan menjadi semakin ketat. Untuk memenangkan persaingan yang ketat ini, menurut gue seorang dokter g bisa lagi mengandalkan skill kedokteranya aja.. seorang dokter juga harus belajar skill lain, seperti contohnya sepak takraw, polo air, kuncir rambut atau terserah yang penting skill lain..  kenapa ? karena dalam rangka memenangkan persaingan, pilihanya hanya 2.. menjadi yang terbaik atau menjadi yang berbeda.. untuk menjadi yang terbaik menurut gue pribadi sih susah, karena untuk mendapatkan ipk sesuai target aja gue harus kesurupan beberapa kali.. tapi untuk menjadi berbeda, bagi gue mudah.. karena sejak kecil gue dikucilkan gara2 berbeda :’)

Menjadi berbeda membuat kalian terlihat lebih jelas di antara samarnya kesamaan.. sehingga tanpa menjadi yang terbaikpun kalian tetap akan bersinar. Ibaratnya kaya di pertandingan gitar, kalian harus jadi yang terbaik biar penonton dan jurinya merhatiin kalian.. tapi tanpa menjadi yang terbaikpun, cuma dengan menjadi berbeda.. kalian juga bisa di perhatiin juri atau penonton, misalnya kalian main gitar sambil panjat pinang, atau main gitar sambil ngerjain persamaan garis singgung lingkaran..

tapi, menjadi berbeda bukan berarti menjadikan diri kalian aneh, inti dari menjadi berbeda adalah melakukan sesuatu hal yang kreatif tapi produktif.. contoh aja dokter tompi yang memanfaatkan bakat nyanyinya, dokter Tirta Hudi yang justru bisnis cuci sepatu, Armando Hasadungan yang memanfaatkan bakat gambarnya buat bikin konten pendidikan keren, dokter Nycita Gina yang selain jadi dokter juga jadi penyiar radio, dokter Gamal yang bikin gerakan bank sampah atau bahkan kaya pelatih timnas Islandia yang ternyata dia adalah dokter gigi.. dengan menjadi berbeda, mereka menjadi bersinar..

03 - Brani beda.jpg

Disisi lain, meskipun banyaknya jumlah dokter menimbulkan persaingan.. sebenarnya jumlah dokter yang banyak juga memunculkan peluang baru, yaitu dokter sebagai pasar.

Semakin banyak dokter, artinya.. alat kebutuhan dokter dan calon dokter kaya stetoskop, tensi, termometer, pundak untuk bersandar, dan lainya akan semakin banyak dibutuhkan. Berdasar prinsip ekonomi, peningkatan kebutuhan harus diikuti dengan peningkatan ketersediaan barang, akan tetapi saat ini gue lihat masih belum banyak orang2 yang menawarkan pundak untuk bersandar, eh maksud gue menawarkan atau jualan alat2 kesehatan.. ditambah lagi, sebagian besar (hampir 80% lebih) alat kesehatan yang beredar di Indonesia saat ini adalah produk Impor, yang mana kita tau produk impor bakal bikin harga makin mahal.

04 - Produk Alkes Rendah.jpg

Minimnya alat2 kesehatan di Indonesia bisa jadi prospek yang bagus buat kalian yang pengen nyoba jadi dokter sekaligus pengusaha. Ditambah lagi, sekarang ini dokter bukan cuma jadi sebuah profesi aja, tapi juga dibuat ajang pamer. Makanya banyak tuh, Bio IG anak FK ada tulisan “Anak Kedokteran”, ”Medstud”, atau kadang dikasih logo suntik biar dikira anak kedokteran padahal aslinya tukang isi tinta printer. Ga cuma di Bio IG, kadang juga ada kan yang masang stiker di mobil tulisan “Fakultas Kedokteran” gede banget dan glow in the dark, biar tulisanya kelihatan dari google map.. nah potensi2 inilah yang bisa kita manfaatkan sebagai dokter pengusaha. Saat ini, dokter pengusaha jumlahnya masih dikit, bisa diitung pake Ipk.. dengan kondisi yang kaya gini kalian bisa jualan alkes, bikin alkes sendiri atau bikin produk yang berkaitan dengan kedokteran.. kaya baju dokter, gantungan kunci dokter, gelas dokter, kabel dokter, racun tikus dokter, atau sekali lagi.. jualan pundak untuk bersandar :’) #butuhpundak

05 - Alat Kesehatan.jpg

Kondisi dunia kedokteran saat ini tentu saja berbeda dengan kondisi saat lalu.. dokter sudah semakin banyak dan kualitasnya semakin baik.. tentu saja hal ini menciptakan persaingan yang makin ketat dan peluang unggul yang lebih sempit. Tapi ingatlah.. bahwa peluang tidak pernah hilang, hanya berpindah jalan.. tertutupnya suatu kesempatan akan membuka kesempatan dari sisi yang lain.. semua bergantung apakah mata kita cukup lebar untuk melihat kesempatan itu dan apakah hati kita cukup berani untuk mengambil kesempatan itu.

Sekali lagi, gue tidak mewarisi genetik roy kimochi.. jadi gue ga bisa lihat gimana prospek mahasiswa kedokteran secara tepat dimasa depan.. tapi satu hal yang gue yakini adalah, salah satu cara terbaik untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakan sendiri masa depan itu..

06 - Create your Future.jpg

semoga lekas sembuh ya 😀

Bismillah

Satu tanggapan untuk “Resep 20 : Kebanyakan Dokter”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s